Selasa, 03 November 2015

Cerita Hikmah dalam Kehidupan: Dua Orang Marketing Sepatu

Cerita Hikmah dalam Kehidupan:
Dua Orang Marketing Sepatu

Sebuah perusahaan sepatu tengah mengincar wilayah afrika sebagai pasarnya. Lalu, dikirimlah dua orang marketing septu yang terbaik kesana. Selang dua hari kemudian, marketing pertama menelfon kekantornya .
“Bagaimana menurutmmu,apakah kita dapat membuka pabrik sepatu disana?” Tanya manajer marketing perusahaan.
“Bos, payah deh, tidak akan mungkin kita bisa membut pabrik sepatu disini. Bagaimana mungkin, sedangkan orang afrika saja tidak ada yang pakai sepatu. Benar-benar tidak ada nilai jualnnya disini. Sudahlah, sore ini juga saya akan pergi meninggalkan Afrika ini,” gerutu marketing pertama.
Sambungan putus. Tapi, berselang beberapa menit kemudian telepon diruang manajer marketing kembali berdering. Rupanya dari marketing yang kedua .
“Bagaimana menurutmmu,apakah kita dapat membuka pabrik sepatu disana?” Tanya manajer marketing perusahaan.
“Luar biasa bos! Afrika adalah pasar yang sangat bagus ntuk membuka pabrik sepatu!”
“ Loh, bagaimana bisa? Katnya orang Afrika tidak ada yang pakai sepatu? Terus kalau kita buka pabrik sepatu disana, dimana kita dapat menjual barang-barang kita?” tanya manajer itu dengan heran.
“ Justru itu bos! Andai kita dapat memberikan pemahaman tentang betapa indahnya bersepatu dan betapa sehatnya bersepatu kepada orang Afrika kita kan menjadi market lider di Afrika ini! Bos, izinkan saya tinggal selama setahun untuk mengampanyekan manfaat sepatu di Afrika ini!”

Hikmah Cerita
Berfikir positiplah dalam setiap masalah yang dihadapi.

Referensi:
Chalil komaruddin M. H. Hikmah di Balik Fenomena Kehidupan. Cet. I; Bandung: Pustaka Madani. 2007.



            

Cerita Hikmah Dalam Kehidupan: Kebaikan Yang tersimpan dalam kejadian

Cerita Hikmah Dalam Kehidupan:
Kebaikan Yang tersimpan dalam kejadian

Alkisah,ada dua orang kakak adik yang sehari-harinya sebagai pedagang tape singkong. Setelah mempersiapkan barang dagangannya, mereka segera tidur agar tidak kesiangan. Kedua kak beradik tersebut bangun di sepetiga malam untuk melasanakan tahajud. Lirih dan sendu memohon kepda Allah “Ya Rabb, berikanlah kami keselamatan, kebaikan dalam kehidupan, rezeki yang hala, melimpah , dan barokah., “Ya Allah, berikanlah kami kebahagian di dunia dan di akhirat”. Tepat pukul 5.00 pagi, setelah melaksanakan shalat subuh berjamah di Mushollah, keduanya berangkat menuju terminal angkutan pedesaan yang biasa digunakan pedagang tape dan pedagang yang lainnya berangkat ke pasar. Dengan wajah penuh harapan, kakak adik ini berjalan pematang sawah. Digotongnya bakul tape dengan menggunakan bambu, sang kakak di depan dan sang adik di belakang, Brakkk.. pikulan patah.... brusss... bakul tape terjatuh ke sawah. Semua tape kotor bercampur lumpur sawah yang baru saja di cangkul. Lemaslah badan keduanya, hatinya kecewa, bahkan menjerit kepada Allah. “Ya Rabb,,, mengapa engkau beru musibah kepad kami? Bukankah kami sudah menyempurnakan ikhtiar, berdoa,  dan beribadah kepadamu, tetapi engkau berikan musibah kepada hamba sehingga hari ini hamba tidak mendapat sedikitpun rezeki.” Melihat tidak ad lagi tape yang bisa diselamatkan, pulanglah keduanya dengan langkah gontani menuju rumahnya kembali. Sang kakak terus menerus membesarkan hati asang adik yang kelihatannya sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Pukul 08.00 terdengar kabar dari tetangganya, ternyata telah terjadi kecelakaan angkutan pedesaan yang biasa mereka gunakan ke pasar. Angkutan pedesaan masuk jurang sedalam 150 meter yang menyebabkan kendaraan rusak berat dan semua penumpang serta sopirnya meninggal di tempat kejadian. Mendengar kabar tersebut terperanjatlah kakak adik itu. Mereka terkejut bercampur syukur atas insiden jatuhnya bakull tape ke sawah. Seandainya tidak jatuh maka kedua kakak adik tersebut termasuk korban yang meninggal. Subhanallah, pukul 05.30 insiden jatuhnya bakul tape di anggap musibah, tetapi dua jam kemudian berubah menjadi karunia Allah swt.
Kisah tersebut memberikan pemahaman bahwa hikmah terkadang datang agak lama, di mana kita bisa mengambil sisi positif dari kejadian yang awalnya dianggap negatip. Oleh karen itu, berbaik sangkalah kepada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim atas hamba-hambanya. Bersabarlah untuk terus merenungkan hikmah dari setiap kejadian yang dialami. Memang, kejadian negatif biasanya segera akan terasa dampaknya kepda kita. Namun, bagi ahli Hikmah kejadian yang dianggap positif pun tidak lepas dari perenungan hikmahnya. Semakin cepat mengambil kebaikan (sisi positif) dari setiap kejadian semakin cepat pula kita mengambil hikmah.
Ada sebuah resep jitu, yaitu teori bungkus, ketika ada suatu kejadian maka hati kita seperti terbungkus. Oleh karena itu, serahkanlah kepada Allah, semoga dia yang Maha Mengetahui hikmah di balik setiap kejadian segera membuka pintu hikmah di hati yang tengah terbungkus tersebut. Misalnya, ketika uang kita hilang, hatinya bersyukur dengan hilangnya uang maka dirinya selamat dari fitnah menggunakan uang untuk maksiat, hilangnya uang sebagian penebus karena di dalamnya ada bagian yang tidak halal.

Referensi:
Chalil komaruddin M. H. Hikmah di Balik Fenomena Kehidupan. Cet. I; Bandung: Pustaka Madani. 2007.


Cerita Hikmah dalam kehidupan: Tidak Nyambung

Cerita Hikmah dalam kehidupan:

Tidak Nyambung

Seorang mahasiswa ditugaskan dari kampusnya untuk memberi penyuluhan di sebuah desa. Peserta penyuluhan adalah penduduk yang tingkat pendidikannya rendah.bahkan, di antaranya ada yang tidak tamat sekolah dasar dan belum lancar berbahasa Indonesia. Setengah dari peserta penyuluhan adalah orang tua yang dianggap sepuh oleh masayarakat desa. Tema yang diusung oleh mahasisawa ini adalah pentingnya hidup bersih. Setelah waktunya tiba, mahasiswa ini memberikan penyuluhan dengan penuh semangat.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, dan para hadirin sekalian, dalam era globalisasi, era reformasi, dan era pasar bebas ini,kualitas lingkungan menjadi prasyarat untuk menemukan apakah kita termasuk masyarakat modern atau tradisional. Konsekuensi dari era globalisasi menuntut masayarakat Indonesia untuk mengakses dan mncermati informasi yang datang dariluar negeri...”
Demikianlah sebagian dari isi penyuluhannya. Selesai penyuluhan, para peserta yang hadir saling berbisik satu sama lai. Mereka saling bertanya tentang penyuluhan yang baru saja didengarnya. Kemudian, salah seorang nenek berkata sambil menguap.
“Duka atuh, da si ujang teh loba ka era.” (Tidak tahu, karena pembicaraanya banyak malu.” –“era’ dalam bahasa sunda artinya malu).

Hikmah cerita
Berbicaralah sesuai dengan daya tangkap orang lain. Dalam menyampaikan pesan kepada khalayak umum. Janganlah kita menggunakan bahasa yang sulit dan tidak umum. Ibarat seorang dokter saat ditanya oleh pasien tentang sakitnya. Lalu dokter ini menjawab dengan bahasa kedokteran yang tidak dimengerti oleh pasien, tentu saja tidak akan memuaskan pasien, justru akan membuatnya semakin binggung.

Referensi:
Chalil komaruddin M. H. Hikmah di Balik Fenomena Kehidupan. Cet. I; Bandung: Pustaka Madani. 2007.



Ibnul Qoyyim Al Jauziyah: “Kemaksiatan Menambah Keimanan Seorang Muslim”

Ibnul Qoyyim Al Jauziyah: “Kemaksiatan Menambah Keimanan Seorang Muslim”

Ada manusia yang berpendapat bahwa terjadinya maksiat bisa menambah keimanan. Sudut pandang ini termasuk yang paling halus, sehingga jarang ada orang yang bisa menerapkannya. Hanya orang ahli ma'rifat saja yang bisa menerapkan sudut pandang ini. Mungkin saja orang yang mendengar pernyataan ini dengan serta-merta akan protes. Dia akan berkata lantang: "Bagaimana mungkin perbuatan dosa dan maksiat diakui bisa menambah keimanan? Apalagi jika dosa dan kemaksiatan itu dilakukan oleh seorang hamba Allah. Bukankah perbuatan itu akan semakin mengurangi kadar keimanan dalam dirinya? Bukankah para ulama salaf juga bersepakat bahwa keimanan bertambah akibat ketaatan kepada Allah dan berkurang akibat maksiat kepada-Nya?

Ketahuilah bahwa kesimpulan semacam ini dihasilkan dari perenungan seorang yang ma'rifat (mengenal Allah sangat dekat) terhadap dosa-dosa dan perbuatan maksiat yang berasal dari dirinya maupun orang lain. Orang yang arif merenungkan perbuatan dosa dan maksiat sampai dengan akibat yang dihasilkan perbuatan bejat tersebut. Dan ternyata dapat disimpulkan bahwa akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang biasanya menimbulkkan bencana dan munculnya mu'jizat, merupakan salah satu dari tanda-tanda kenabian dan sebagai bukti kebenaran pam rasul Allah Ta'laa. Bahkan akibat perbuatan dosa itu malah menegaskan kebenaran ajaran yang dibawa para rasul Allah tersebut.

Sesungguhnya para rasul Allah shalawaatullahu wa salaamuhu 'alaihim memerintahkan ummat manusia untuk membenahi kondisi lahir maupun batin mereka, baik di
kehidupan dunia maupun akhirat. Para rasul juga melarang mereka untuk melakukan kerusakan pada lahir-batin mereka baik di dunia maupun akhirat. Maka utusan-utusan Allah itu memberitahukan kepada umat manusia bahwa sesungguhnya Allah itu menyukai perbuatan yang ini dan itu. Allah juga akan mengganjar perbuatan yang telah dilaksanakan. Para rasul juga memberitahukan bahwa Allah membenci perbuatan yang ini dan itu. Dan Allah akan mendatangkan siksa atas perbuatan tersebut. Apabila umat manusia mentaati apa yang telah Dia perintahkan kepadanya, maka Allah akan bersyukur kepadanya dengan cara memberikan pertolongan dan tambahan kenikmatan di dalam hati, jasad maupun hartanya. Maka hamba tersebut akan merasakan kecukupan dan kekuatan di setiap situasi. Akan tetapi apabila perintah dan larangan-Nya dilanggar, maka hal itu menyebabkan ketidak-cukupan, kerusakan, kelemahan, kehinaan, diremehkan, dan kehidupan yang terasa sangat sempit.

Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Ta'aala: 'Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(QS. an-Nahl (16):67). "Katakanlah: "Hai hamba-hamha-Ku yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang bcrbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan." (QS. az-Zumar (39):10). "Dan scsungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik."(QS.an Nahl(16):30). "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Jika kamu mengerjakan yang demikian, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampa i kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat" (QS. Huud (11):3). "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (QS. Thaaha (20):124-125).

Yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit di dalam ayat tersebut di atas ditafsirkan oleh sebagian ulama sebagai adzab kubur. Namun yang benar bahwa arti kehidupan yang sempit itu adalah kehidupan di dunia dan kehidupan di alam barzakh. Sesungguhnya orang yang berpaling dari peringatan yang telah diturunkan oleh Allah akan merasa bahwa kehidupannya sempit dan susah. Dia juga akan sering merasa takut, memiliki keinginan yang berlebihan, sangat payah mencari materi duniawi, selalu merasa ragu ketika balum berhasil meraih keinginan materialnya, dan merasa tersiksa jika tidak bergelimang harta. Di samping itu ada beberapa hal kurang baik lain yang dialami oleh hatinya tanpa dia sadari. Ini disebabkan karena dia sedang mabuk dan tenggelam dalam ambisi duniawinya itu. Dia tidak akan pemah sadar walau sesaat kecuali baru menyadari dan merasakan sakitnya kondisi tersebut. Pada waktu itu dia akan segera menghindarkan dirinya untuk tidak jatuh yang kedua kalinya dalam kondisi mabuk. Dia akan terus mengalami kondisi seperti ini sepanjang hidupnya. Mana ada kehidupan yang terasa lebih sempit dibandingkan dengan kondisi hati yang mengalam i perasaa seperti itu ?

Orang-orang ahli bid'ah, orang yang berpaling dari al-Qur'an, orang yang lalai kepada Allah dan orang-orang tukang berbuat maksiat, hatinya berada di dalam neraka Jahim sebelum dirinya masuk ke dalam neraka jahim yang sesungguhnya. Sedangkan hati orang-orang yang baik berada di dalam surga an-Na'im sebelum masuk ke dalam surga an-Na'im yang sebenarnya. Allah Tabaaraka wa Ta'aala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar bcrada dalam neraka" (QS. al Infithaar (82):13-14)..

Kehidupan sempit berlaku dalam tiga daur kehidupan mereka (yakni kehidupan dunia, alam kubur dun akhirat), bukan hanya kehidupan akhirat saja. Sekalipun kehidupan yang sangat menyiksa itu mencapai puncaknya di kehidupan akhirat. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah lagi akan dia alami di dalam kehidupan alam barzakh. Allah Ta'aala befirman: "Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada adzab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuil" (QS. al Thuur (52):47). "Dan mereka (orang-orang kafir) berkata: " Bilakah datangnya adzab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar".Katakanlah: "Mungkin telah hampir datang kepadamu sebagian dari (adzab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu." (QS. an-Naml (27):71-72).
-
Siksaan yang dialami di dalam kehidupan dunia ini memang lebih ringan dibandingkan dengan kehidupan sulit yang akan diterima seseorang di dalam alam barzakh. Hanya saja tenggelam dalam mabuknya hasrat syahwat menyebabkan dia tidak menyadari kesempitan hidup tersebut dan sengaja membuang jauh-jauh dari hatinya. Mereka tidak merenungkan dan menyadari bahwa kondisi dirinya sudah sangat terpuruk.

Seorang hamba kadang kala merasakan rasa sakit tersebut disekujur tubuhnya. Namun dia sengaja membuang jauh-jauh den bayangan hatinya dan tidak lagi memperdulikannya. Dia berusaha mengalihkan perhatian kepada obyek lain sehinga tidak seratus persen merasakan kehidupan sempit itu. Akan tetapi jika upaya pengalihan perhatian itu lepas dari dirinya, pasti dia akan kembali menjerit kesakitan. Bagaimana menurutmu dengan siksaan rasa sakit di dalam hati seperti ini? Bukankah malah sangat menyiksa? Allah Subhaanahu wa ta'aala telah menjanjikan hal hal positif dan menyenangkan untuk berbagai bentuk kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Kenikmatan janji Allah itu jauh lebih menyenang kendati pada kenikmatan maksiat yang hanya bersifat sementara. Bahkan kenikmatan janji Allah itu tidak ada bandingannya. Namun sebaliknya, Allah akan memberikan rasa sakit dan tersiksa akibat perbuatan buruk dan tindak maksiat. Rasa sakit itu jauh lebih besar dibandingkan dengan kenikmatan yang dia rasakan sekejap ketika mengerjakan maksiat tersebut.

Ibnu Abbas radhiyallalu `anhumaa berkata: ”Sesungguhnya perbuatan baik itu memiliki cahaya di dalam hati, pancaran di wajah, kekuatan di badan, menyebabkan rezeki semakin bertambah dan menanamkan rasa cinta di dalam hati makhluk. Sedangkan perbuatan buruk menyebabkan kesuraman diraut wajah, kegelapan di dalam hati. Kelemahan di fisik, menyebabkan rezeki berkurang, dan menanamkan rasa tidak suka di dalam hati makhluk. Hal ini sebenamya telah dibuktikan oleh orang-orang yang hatinya bersih. Dia akan bisa merasakan kenikmatan itu, sedangkan orang lain tidak bisa menangkapnya.

Seorang hamba tidak akan mengalami kondisi yang sangat tidak menyenangkan kecuali jika dia mengerjakan perbuatan dosa. Padahal kesalahan yang dimaafkan oleh Allah sudah sangat hanyak. Allah Ta'aala telah berfirman:"Dan sebuah musibah yang menimpa kamu sebenamya disebabkan oleh perbuatan tanganmu sandiri, dan Allah memaafkan sebagian besar(dari kesalahan-kesalahanmu)
(QS. al Syuura (42):30). "Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu. (pada peperangan Badar) kamu berkata: "Dari mana datangnya kekalahan) ini?" Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali -Imran(3):165). "Apa saja kebaikan (nikmat) yang menimpamu adalah dari Allah dan apa saja keburukan (bencana) yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." (QS.An-Nisaa' (4):79).


Yang dimaksud dengan kebaikan dan keburukan di dalam ayat tersebut adalah kenikmatan dan bencana yang diterima oleh hamba dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu disebutkan dengan kalimat "Apa saja yang menimpamu," tidak disebutkan dengan kalimat "Apa yang kamu peroleh." Sebab pada hakekatnya semua berasal dari Allah Ta'aala.

Segala bentuk kekurangan, bencana dan keburukan yang ada di dunia maupun di akhirat, tidak lain disebabkan oleh dosa hamba dan karena menyalahi perintah-perintah Allah Ta'aala. Tidak ada keburukan di muka bumi ini kecuali diakibatkan oleh dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia itu sendiri.

Pengaruh dari perbuatan baik dun buruk yang bisa dilihat dalam hati, badan, ataupun harta, benar-benar sebuah fenomena alam yang bisa dilihat dcngan indera mata. Tidak akan ada satu pun orang berakal sehat yang mampu mengingkarinya. Bahkan fenomana itu mampu dilihat oleh orang mukmin, orang kafir, orang baik maupun orang buruk.

Hamba yang bisa melihat bekas-bekas fenomena tersebut untuk kemudian direnungkan dan dipikirkan, maka dia termasuk orang yang memperkuat keimanannya dengan ajaran yang dibawa oleh para rasul. Dia juga memperkuat kualitas keimanan dalam dirinya dengan cara merenungkan pahala dan siksa.

Sesungguhnya semua itu merupakan tanda-tanda material yang bisa dilihat di muka bumi ini. Fenomena-fenomena tersebut merupakan ganjaran maupun siksa yang diawal kejadiannya adalah di dunia. Fenomena-fenomena itu juga akan lebih berarti bagi orang-orang yang memiliki kejelian hati. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang kepadaku (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah): "Jika aku telah mengerjakan sebuah dosa dan tidak segera aku kejar dengan taubat, maka aku menanti akibat buruk yang akan terjadi. Jika sesuatu yang tidak menyenangkan itu telah menimpa diriku, apakah lebih ringan ataukah lebih parah, maka kebiasaan yang aku jalani adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

Efek negatif ini sebenamya menjadi bukti dan dalil-datil keimanan. Sesungguhnya orang yang jujur jika kamu beritahu bahwa apabila kamu baru saja megerjakan begini- begitu maka akan berakibat yang begini dan begitu, maka dia akan semakin yakin dengan pemberitahuan tersebut. Apalagi jika setiap kali kamu mengatakan tersebut dibarengi dengan bukti sesualu yang tidak menyenangkan. Namun perasaan semacam ini tidak selalu dimiliki oleh setiap orang. Bahkan mayoritas hati manusia dipenuhi dengan noktah-noktah hitam karena perbuatan dosa. Dengan demikian dia tidak akan pemah melihat dan merasakan tentang sesuatu yang sedang menimpanya.

Perasaan jujur terhadap akibat dari sebuah perbuatan hanya bisa dirasakan oleh hati yang dipenuhi cahaya keimanan. Sedangkan atmosfer dosa dan maksiat akan bertiup kencang di dalamnya. Hati orang-orang jujur pun akan bisa mengakui fenomena yang tejadi akibat suatu perbuatan. Dia akan bisa memperkirakan kekuatan cahaya keimanannya di tengah badai angin dosa dan maksiat yang berhembus kencang. Dia melihat dirinya bagaikan pelaut di tengah samudra yang dilanda angin kencang. Perahu yang ditumpanginya sangat terancam untuk terbalik dan terancam pecah karena terhempas badai yang dahsyat. Begitu juga dengan seorang mukmin yang selalu memonitor jiwanya ketika habis mengerjakan maksiat atau pun melakukan perbuatan dosa.


Ketika pintu ini telah terbuka bagi seorang hamba, maka memperhatikan sejarah kejadian Bumi ini dan memperhatikan keadaan beberapa umat manusia akan sangat bermanfaat baginya. Bahkan kejadian yang menimpa masyarakat di sekitar dirinya bukan saja akan memberikan manfaat yang sangat besar (namun akan memberi lebih dari sekedar manfaat-penj). Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Ta'aala: "Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?” (QS. al Ra'd (13):33).
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang manegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"(QS. All Imruan (3):18).


Setiap keburukan, bencana, siksa, ketakutan dan kekurangan yang terjadi pada dirinya maupun orang lain termasuk dalam kerangka keadilan Allah Subhaanahu wa
Ta'aala. Demikianlah bentuk keadilan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Hal itu sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah kepada orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi: “Maka bila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana" (QS. al Israa' (17):5).

Dosa-dosa manusia subenarnya ibarat racun yang sangat membahayakan tubuh. Apabila dosa dosa itu segera diatasi oleh orang yang memasukkan obat ke dalam tubuh, maka mungkin racun itu bisa segera dilumpuhkan. Jika tidak, maka kekuatan imannya akan segera terkalahkan dan dia pun akan mengalami kebinasaan.

Sebagian ulama salaf ada yang berkata: Pcrbuatan perbuatan maksiat menuntut kekufuran sebagaimana juga demam terkadang juga menuntut kematian. Biasanya seseorang akan bisa melihat kekurangannya setelah dia bermaksiat kepada Tuhannya. Karena perbuatan maksiat yang telah dikerjakan itulah hatinya menjadi berubah dan tidak lagi kasar. Dia akan menyadari kehinaan dirinya di hadapan anggota keluarga, anak-anak, isteri maupun saudara-saudaranya. Dia akan menginstrospeksi diri sehingga menyadari dari mana dia berasal. Kondisi jiwa seperti inilah yang menyebabkan keimanannya semakin kuat. Jika dia melepaskan semua sebab yang bisa menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kehancuran itu, maka kadar keimanannya pun akan semakin kuat. Dia akan melihat adanya keperkasaan setelah sebelumnya terhina, melihat kekayaan setelah sebelumnya kefakiran, kebahagiaan yang sebelumnya kesusahan, keamanan yang sebelumnya rasa takut dan kekuatan setelah sebelumnya lemah dan hina.

Bukti-bukti dan dalil-dalil keimanan itu semakin memperkuat pendirian hatinya baik ketika dia bermaksiat ataupun ketika menjalanhan ketaatan kepada Allah. Mereka ini sebenarnya termasukdalam firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagai berikut: "Agar Allah menutupi; (mengampuni) perbuatan paling buruk yang telah mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."(QS. az-Zumar(39):35).

Ketika seseorang bisa menerapkan sudut pandang ini dengan sebenamya, maka dia akan menjadi salah seorang yang mampu mengobati hati dan bisa mengetahui penyakit dan obat bagi hati yang sedang sakit. Sehingga Allah 'Azza wa Jalla akan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri dan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Wollohu a'lam.

(Dikutip dari buku Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, berjudul “Masyaahid Al Khalq fi Al Ma’shiyah”, Al Maktab Al Islami, Beirut, Cetakan I, tahun 1405H/1985). Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Wawan Djunaedi Soffandi, S.Ag oleh penerbit Pustaka Azzam, Jakarta.

Artikel: Allah; Nama Tuhan

Artikel: Allah; Nama Tuhan

Kata ‘Allah’ merupakan nama Tuhan yang paling populer. Apabila anda berkata :”Allah..”, maka apa yang anda ucapkan itu telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain, sedangkan bila anda mengucapkan nama-nama-Nya yang lain – misalnya ‘ar-Rahmaan’, ‘al-Malik’ dan sebagainya – maka ia hanya menggambarkan sifat Rahman, atau sifat kepemilikan-Nya. Disisi lain, tidak satupun dapat dinamakan Allah, baik secara hakikat maupun secara majazi, sedangkan sifat-sifat-Nya yang lain – secara umum – dapat dikatakan bisa disandang oleh makhluk-makhluk-Nya. Bukankah kita dapat menamakan si Ali yang pengasih sebagai ‘Rahiim’?, atau Ahmad yang berpengetahuan sebagai ‘Aliim’?. Secara tegas, Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri yang menamakan dirinya Allah.

14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa). Innanii = sesungguhnya Aku, anaa = Aku, Allaahu = Allah, laa ilaaha = tidak ada tuhan, illaa = melainkan, ana = Aku…

Dia juga dalam Al-Qur’an yang bertanya :”hal ta’lamu lahuu samiyyaa..” (Surat Maryam ayat 19). Ayat ini, dipahami oleh pakar-pakar Al-Qur’an bermakna :”Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang bernama seperti nama ini..?” atau :”Apakah engkau mengetahui sesuatu yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan sebagaimana pemilik nama itu (Allah)?” atau bermakna :”Apakah engkau mengetahui ada nama yang lebih agung dari nama ini?”, juga dapat berarti :”Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”

Pertanyaan-pertanyaan yang mengandung makna sanggahan ini kesemuanya benar, karena hanya Tuhan Yang Maha Esa yang wajib wujudnya itu yang berhak menyandang nama tersebut, selain-Nya tidak ada, bahkan tidak boleh. Hanya Dia yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan mutlak, sebagaimana tidak ada nama yang lebih agung dari nama-Nya itu.

Para ulama dan pakar bahasa mendiskusikan kata tersebut antara lain apakah ia memiliki akar kata atau tidak. Sekian banyak ulama yang berpendapat bahwa kata ‘Allah’ tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tapi ia adalah nama yang menunjuk kepada zat yang wajib wujud-Nya, yang menguasai seluruh hidup dan kehidupan, serta hanya kepada-Nya seharusnya seluruh makhluk mengabdi dan bermohon. Tetapi banyak ulama berpendapat, bahwa kata ‘Allah’ asalnya adalah ‘Ilaah’, yang dibubuhi huruf ‘Alif’ dan ‘Laam’ dan dengan demikian, ‘Allah’ merupakan nama khusus, karena itu tidak dikenal bentuk jamaknya. Sedangkan ‘Ilaah’ adalah nama yang bersifat umum dan yang dapat berbentuk jamak (plural), yaitu ‘Alihah’. Dalam Bahasa Inggeris, baik yang bersifat umum maupun khusus, keduanya diterjemahkan dengan ‘god’, demikian juga dalam Bahasa Indonesia keduanya dapat diterjemahkan dengan ‘tuhan’, tapi cara penulisannya dibedakan. Yang bersifat umum ditulis dengan huruf kecil ‘god/tuhan’, dan yang bermakna khusus ditulis dengan huruf besar ‘God/Tuhan’.

‘Alif’ dan ‘Laam’ yang dibubuhkan pada kata ‘Ilaah’ berfungsi menunjukkan bahwa kata yang dibubuhi tersebut merupakan sesuatu yang telah dikenal dalam benak. Kedua huruf tersebut sama dengan ‘The’ dalam bahasa Inggeris. Kedua huruf tambahan itu menjadi kata yang dibubuhi menjadi ‘ma’rifat’ atau ‘definite’ (diketahui/dikenal). Pengguna Bahasa Arab mengakui bahwa Tuhan yang dikenal dalam benak mereka adalah Tuhan Pencipta, berbeda dengan tuhan-tuhan (aliihah/bentuk jamak dari ilaah) yang lain. Selanjutnya dalam perkembangannya lebih jauh dan dengan alasan mempermudah, ‘hamzah’ yang berada antara dua ‘laam’ yang dibaca ‘i’ pada kata ‘al-Ilaah’ tidak dibaca lagi, sehingga berbunyi ‘Allah’ dan sejak itulah kata ini seakan-akan telah merupakan kata baru yang tidak memiliki akar kata, sekaligus sejak itu pula kata ‘Allah’ menjadi nama khusus bagi Pencipta dan Pengatur alam raya yang wajib wujud-Nya.

Sementara ulama berpendapat bahwa kata ‘Ilaah’ yang darinya terbentuk kata ‘Allah’ berakar dari kata ‘al-Ilaahah’, ‘al-Uluuhah’ dan ‘al-Uluuhiyyah’ yang kesemuanya menurut mereka bermakna ‘ibadah/penyembahan’, sehingga ‘Allah’ secara harfiah bermakna ‘Yang Disembah’. Ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berakar dari kata ‘Alaha’ dalam arti ‘mengherankan’ atau ‘menakjubkan’ karena segala perbuatan/ciptaan-Nya menakjubkan atau karena bila dibahas hakekat-Nya akan mengherankan akibat ketidak-tahuan makhluk tentang hakekat zat Yang Maha Agung itu. Apapun yang terlintas dalam benak menyangkut hakekat zat Allah, maka Allah tidak demikian. Itu sebabnya ditemukan riwayat yang menyatakan :”Berpikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir tentangZat-Nya”. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ‘Allah’ terambil dari akar kata ‘Aliiha Ya’lahuu” yang berarti ‘tenang’, karena hati menjadi tenang bersama-Nya, atau dalam arti ‘menuju’ dan ‘bermohon’ karena harapan seluruh makhluk tertuju kepada-Nya dan kepada-Nya jua makhluk bermohon.

Memang setiap yang dipertuhankan pasti disembah dan kepadanya tertuju harapan dan permohonan lagi menakjubkan ciptaannya, tetapi apakah itu berarti bahwa kata ‘Ilaah’ – dan juga ‘Allah’ – secara harfiah bermakna demikian..? , dapat dipertanyakan apakah bahasa atau Al-Qur’an yang menggunakannya untuk makna ‘yang disembah’?. Kalau anda menemukan semua kata ‘Ilaah’ dalam Al-Qur’an, niscaya akan anda temukan bahwa kata itu lebih dekat untuk dipahami sebagai penguasa, pengatur alam raya atau dalam genggaman-Nya segala sesuatu, walaupun tentunya yang meyakini demikian, ada yang salah pilih ‘ilaah’nya.

Kata ‘Allah’ mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh kata selainnya, ia adalah kata-kata yang sempurna huruf-hurufnya, sempurna maknanya, serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya, sehingga sementara ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinamai ‘Ismu-Ilaah al-A’zham (Nama Allah yang paling mulia). Yang bila diucapkan dalam do’a, Allah akan mengabulkannya. Dari segi lafaz terlihat keistimewaan ketika dihapus huruf-hurufnya. Bacalah kata ‘Allah’ dengan menghapus huruf awalnya, akan berbunyi ‘Lilaah’ dalam arti ‘milik/bagi Allah’, kemudian hapus huruf awal dari kata ‘Lilaah’, itu akan terbaca ‘Laahu’ dalam arti ‘bagi-Nya’, selanjutnya, hapus lagi huruf awal dari ‘Laahu’, akan terdengan dalam ucapan ‘Huu’, yang berarti ‘Dia (menunjuk Allah), dan apabila itupun dipersingkat akan terdengar suara ‘Ah’ yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan, tapi pada hakekatnya mengandung makna permohonan kepada Allah. Karena itu sementara ulama berkata bahwa kata ‘Allah’ terucap oleh manusia, sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak suka. Itulah salah satu bukti adanya ‘fitrah’ dalam diri manusia. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik adalah :

38. Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". (Az Zumar)

dari segi makna dapat dikatakan bahwa kata ‘Allah’ mencakup segala sifat-sifat-Nya, bahkan Dia-lah yang menyandang nama-nama tersebut, karena itu jika anda berkata “Yaa..Allah..”, maka semua nama-nama/sifat-sifat-Nya telah tercakup oleh kata tersebut. Disisi lain, jika anda berkata ‘ar-Rahiim’, maka sesungguhnya yang anda maksud adalah Allah. Demikian juga ketika anda menyebut ‘al-Muntaqim’ (yang membalas kesalahan), namun kandungan makna ‘ar-Rahiim’ (Yang Maha Pengasih) tidak tercakup didalam pembalasan-Nya, atau sifat-sifat-Nya yang lain. Itulah salah satu sebab mengapa dalam syahadat seseorang selalu harus menggunakan kata ‘Allah’ ketika mengucapkan ‘Asyhadu an Laa Ilaaha Illa-llaah’ dan tidak dibenarkan menggantinya dengan nama-nama-Nya yang lain.

Demikianlah Allah, karena itu tidak heran jika ditemukan sekian banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan orang-orang beriman agar memperbanyak zikir menyebut nama Allah, karena itu setiap perbuatan yang penting hendaknya dimulai dengan menyebut nama itu, nama Allah. Rasulullah bahkan mengajarkan lebih rinci lagi :”Tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah, padamkanlah lampumu dan sebutlah nama Allah, tutuplah periukmu dan sebutlan nama Allah, rapatkanlah kendi airmu dan sebutlah nama Allah…”

Referensi:
Tafsir al-Mishbah buku 1

M.Quraish Shihab

Artikel: Sang Arsitek dan Penari Ulung

Artikel: Sang Arsitek dan Penari Ulung


Di antara makhluk paling memukau di alam ini adalah lebah madu,
makhluk mungil yang menghidangkan kita sebuah minuman yang sempurna, yaitu madu yang dihasilkannya.

Lebih Hebat dari Ahli Matematika

Lebah madu hidup sebagai koloni dalam sarang yang mereka bangun dengan sangat teliti. Dalam tiap sarang terdapat ribuan kantung berbentuk heksagonal atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan madu. Tapi, pernahkah kita berpikir, mengapa mereka membuat kantung-kantung dengan bentuk heksagonal?

Para ahli matematika mencari jawaban atas pertanyaan ini, dan setelah melakukan perhitungan yang panjang dihasilkanlah jawaban yang menarik! Cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat dinding berbentuk heksagonal.

Mari kita bandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain. Andaikan lebah membangun kantung-kantung penyimpan tersebut dalam bentuk tabung, atau seperti prisma segitiga, maka akan terbentuk celah kosong di antara kantung satu dan lainnya, dan lebih sedikit madu tersimpan di dalamnya. Kantung madu berbentuk segitiga atau persegi bisa saja dibuat tanpa meninggalkan celah kosong. Tapi di sini, ahli matematika menyadari satu hal terpenting. Dari semua bentuk geometris tersebut, yang memiliki keliling paling kecil adalah heksagonal. Karena alasan inilah, walaupun bentuk-bentuk tersebut menutupi luasan areal yang sama, material yang diperlukan untuk membangun bentuk heksagonal lebih sedikit dibandingkan dengan persegi atau segitiga. Singkatnya, suatu kantung heksagonal adalah bentuk terbaik untuk memperoleh kapasitas simpan terbesar, dengan bahan baku lilin dalam jumlah paling sedikit.

Hal lain yang mengagumkan tentang lebah madu ini adalah kerjasama di antara mereka dalam membangun kantung-kantung madu ini. Bila seseorang mengamati sarang lebah yang telah jadi, mungkin ia berpikir bahwa rumah tersebut terbangun sebagai blok tunggal. Padahal sebenarnya, lebah-lebah memulai membangun rumahnya dari titik yang berbeda-beda. Ratusan lebah menyusun rumahnya dari tiga atau empat titik awal yang berbeda. Mereka melanjutkan penyusunan bangunan tersebut sampai bertemu di tengah-tengah. Tidak ada kesalahan sedikitpun pada tempat di mana mereka bertemu.

Lebah juga menghitung besar sudut antara rongga satu dengan lainnya pada saat membangun rumahnya. Suatu rongga dengan rongga di belakangnya selalu dibangun dengan kemiringan tiga belas derajat dari bidang datar. Dengan begitu, kedua sisi rongga berada pada posisi miring ke atas. Kemiringan ini mencegah madu agar tidak mengalir keluar dan tumpah.

Berkomunikasi dengan Menari

Untuk mengisi kantung-kantung ini dengan madu, lebah harus mengumpulkan nektar, yakni cairan manis pada bunga. Ini adalah tugas yang sangat berat. Penelitian ilmiah terkini mengungkapkan bahwa untuk memproduksi setengah kilogram madu, lebah harus mengunjungi sekitar empat juta kuntum bunga. Mendapatkan bunga-bunga ini pun adalah pekerjaan berat tersendiri. Oleh karenanya, koloni lebah memiliki sejumlah lebah pemandu dan lebah pencari makan.

Bagaimana lebah pencari makan menemukan bunga di wilayah yang begitu luas dibanding ukuran tubuh mereka?

Bagaimana mereka menemukan jalan kembali ke sarang tanpa tersesat? Bagaimana mereka memberitahu lebah-lebah lain tentang arah sumber bunga? Tatkala kita berusaha menjawab beragam pertanyaan ini, kita akan sampai pada kenyataan yang sungguh menakjubkan.

Ketika seekor lebah telah menemukan sumber bunga, maka tugas berikutnya dari lebah pemandu ini adalah untuk kembali ke sarang dan memberitahu lebah-lebah lain tentang lokasi di mana ia menemukan kumpulan bunga tersebut. Segera setelah lebah pemandu kembali ke sarangnya, ia mulai memberitahukan lokasi sumber bunga yang ia temukan kepada lebah-lebah lain. Pertama, ia membiarkan lebah-lebah lain mencicipi sedikit nektar yang ia kumpulkan dari bunga untuk memberitahu mereka tentang kualitas nektar tersebut. Lalu ia memulai tugas utamanya, yakni menjelaskan arah menuju sumber bunga. Ia melakukan ini dengan cara yang sangat unik, yaitu dengan tarian. Lebah pemandu mulai menari di tengah-tengah sarang dengan menggoyangkan badannya. Sulit dipercaya, tapi gerakan dalam tarian ini memberikan lebah-lebah lain informasi tentang lokasi sumber bunga. Misalnya, jika tarian berupa garis lurus ke arah bagian atas sarang, maka sumber makanan tepat mengarah ke arah matahari. Jika bunga berada pada arah sebaliknya, lebah akan membuat garis ke arah tersebut. Jika lebah menari ke arah kanan, maka ini menunjukkan bahwa sumber bunga berada tepat sembilan puluh derajat ke arah kanan.

Tetapi ada satu pertanyaan, lebah menjelaskan arah tersebut berdasarkan posisi matahari, padahal posisi matahari terus berubah. Setiap empat menit matahari bergeser satu derajat ke barat, faktor yang mungkin menurut anggapan orang diabaikan lebah dalam penentuan arah ini. Tapi, pengamatan menunjukkan bahwa lebah-lebah ini juga memperhitungkan pergerakan matahari. Ketika lebah pemandu memberitahu arah lokasi bunga, dalam setiap empat menit, sudut yang mereka beritahukan juga bertambah satu derajat ke barat. Berkat perhitungan yang luar biasa ini, para lebah tidak pernah tersesat.

Lebah pemandu tak hanya menunjukkan arah sumber bunga, tetapi juga jarak ke tempat tersebut. Lama waktu tarian dan jumlah getaran memberi petunjuk kepada lebah-lebah lain tentang jarak ini secara akurat. Mereka membawa perbekalan sari-sari makanan yang sekedar cukup untuk menempuh jarak ini, dan kemudian memulai perjalanan.

Perilaku mengagumkan dari para lebah ini telah diuji dalam sebuah penelitian di California. Dalam penelitian ini, tiga wadah berisi air gula diletakkan di tiga tempat yang berbeda. Sesaat kemudian, lebah-lebah pemandu menemukan sumber makanan tersebut. Lebah pemandu yang mendatangi wadah pertama diberi tanda titik; yang mendatangi wadah kedua ditandai dengan garis, dan yang mendatangi wadah ketiga diberi tanda silang. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah dalam sarang tampak mengamati dengan cermat para lebah pemandu ini. Para ilmuwan lalu memberi tanda titik pada lebah-lebah yang mengamati lebah pemandu bertanda titik, dan demikian halnya, mereka juga memberi lebah-lebah lain tanda yang sama dengan yang ada pada lebah pemandu yang mereka amati. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah bertanda titik mendatangi wadah pertama, yang bertanda garis tiba di wadah kedua dan yang bertanda silang di wadah ketiga. Jadi, terbukti bahwa lebah-lebah dalam sarang menemukan arah berdasarkan informasi yang sebelumnya telah disampaikan oleh lebah-lebah pemandu.

Segala fakta ini hendaknya direnungkan dengan seksama. Dari mana lebah-lebah memperoleh kemampuan berorganisasi yang menakjubkan? Bagaimana seekor serangga mungil yang tak memiliki kecerdasan atau sarana berpikir mampu bertugas sebagai pencari makanan? Bagaimana ia dapat berpikir untuk mencari sumber makanan dan kemudian memberitahukannya kepada rekan-rekan sesarangnya? Bahkan jika ia dianggap mampu memikirkannya, bagaimana ia dapat menciptakan tarian untuk memberitahu yang lain tentang lokasi dan jarak sumber makanan? Bagaimana lebah-lebah dalam sarang mampu memahami arti gerakan dan getaran rumit dari lebah-lebah pemandu ?

Teori Evolusi Darwin yang mengklaim bahwa kehidupan di bumi terjadi secara kebetulan, tak mampu menjawab beragam pertanyaan ini. Segala keahlian khusus lebah ini menunjukkan bahwa Penciptanya telah memberikan semua sifat ini kepada mereka.

Allah menciptakan, dan mengilhami mereka untuk melakukan pekerjaan mereka. Fakta ini dinyatakan dalam Al Quran : Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan, bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 68-69)

Sumber : HarunYahya
Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Bone
Oleh:

Para pelaut pedagang Bugis dan Makassar sudah berhubungan dengan agama islam jauh sebelum islam masuk ke Sulawesi selatan. Mereka berhubungan dengan Masyarakat dagang yang kebanyakan Islam di daerah pantai utara dan barat jawa serta sepanjang Selat Malaka, dan dengan Ternate DI Maluku (yang mengadakan perjanjian persahabatan Kerajaan Gowa). Suatu masyarakat Melayu Islam telah bermukim di Kota Makassar sejak pertengahan abad keenam belas, dan Raja Goa menyambut kehadiran mereka dengan membangun sebuah masjid untuk mereka. Tetapi, daerah itu diislamkan setelah Raja Gowa sendiri beserta para penasihat terdekatnya memeluk agama Islam pada tahun 1605.

Penyebaran islam berawal ketika tiga orang ulama tiba di Makassar pada akhir abad keenambelas. Mereka adalah orang Minangkabau dari Kota Tengah, Sumatera Barat, tempat kelahiran sejumlah orang Islam Makassar, dan anggota dari Perhimpunan Chalawatijah di Indonesia yang beraliran sufi ortodoks. Para ulama ini berjasa dalam menyiarkan agama islam kepada Raja Gowa beserta paman dan penasihatnya dan raja dari Kerajaan Tallo. Sejak saat itu perkembangan Islam berjalan sangat pesat.

Setelah menganut agama islam, Raja Gowa mengeluarkan seruan kepada para penguasa kerajaan lain agar menerima agama Islam. Seruan itu dikatakan telah didasarkan atas persetujuan terdahulu, bahwa setiap penguasa yang menemukan suatu jalan baru, dan lebih baik, berkewajiban memberi tahu para penguasa lainnya mengenai penemuannya tersebut. Tetapi hanya kerajaan-kerajaan kecil yang memberi tanggapan positif. Dan Gowa, yang khawatir akan diperbaharuinya persekutuan Bone, Wajo, dan Soppeng terhadapnya, menyatakan perang suci terhadap lawan-lawan lamanya. Kerajaan-kerajaan yang keras itu ditaklukkan, Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610 dan Bone tahun 1611 dan dinyatakan masuk Islam. Hanyalah daerah-daerah pegunungan yang terpencil khususnya daerah Toraja di daerah pedalaman tengah dan daerah Bawakaraeng dan Lompobattang tetap di luar lingkup Islam.

Ketika kerajaan Gowa mengajak para penguasa di tanah Bugis untuk menerima Islam menjadi agamanya seperti yang terjadi di kerajaan Gowa. Di mata orang Bone hal itu dilihat sebagai upaya untuk menanamkan pengaruh dan kekuasaan kerajaan Gowa. Pandangan seperti itu dalam banyak hal mewarnai tingkah laku kerajaan-kerajaan besar di wilayah ini.

Di bawah pemerintah Raja Bone XII, kerajaan Bone dikenal sebagai kerajaan paling besar di antara kerajaan-kerajaan lainnya dalam wilayah suku Bugis. Raja Gowa yang lebih dahulu masuk Islam dikenal sangat bersemangat dalam memperjuangkan Islam, begitu pula dengan rakyatnya. Sehingga beliau berniat untuk menyampaikan dakwah pada kerajaan-kerajaan yang ada di sekitarnya, termasuk Raja Bone. Kemudian raja Gowa menyampaikan pesan kepada Raja Bone bahwa dia hanya akan dipandang dan dihormati sebagai raja yang setaraf, apabila Raja Bone menganut ajaran agama Islam dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah kerajaan Sidenreng, Soppeng dan Wajo menerima Islam, Raja Bone X digantikan oleh La Tenriruwa sebagai raja Bone XI. Mengetahui ada pergantian raja di Kerajaan Bone maka Sultan Alauddin (Raja Gowa) bersama pasukannya bergerak menuju Bone untuk bertemu dengan raja Bone yang baru. Kunjungan ini bertujuan untuk mengajak Raja La Tenriruwa dan rakyatnya untuk memeluk Islam. Ajakan Sultan Gowa ini nampaknya secara pribadi dapat diterima dengan baik namun mendapat tantangan oleh para Ade pitu.

Menurut pendapat A. Zainal Abidin, penolakan atas Islam sebagai agama kerajaan pada waktu itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

1.Mereka sukar meninggalkan kegemarannya makan babi, minum tuak, sabung ayam dan judi, beristri banyak, dan lain-lain.

2.Mereka khawatir akan dijajah kembali oleh Gowa. Mereka masih teringat akan perang yang dilancarkan oleh Raja-raja Gowa dahulu seperti I Manrigau Daeng Banto Tunipallangga Ulaweng dan I Tajibarani Daeng Marompa Tunibatta pada abad XVI.

Pada tahun 1910 Bone secara resmi masuk Islam, pada masa pemerintahan Raja Bone XIII yaitu La Madderemueng (1631-1644) mulailah Kerajaan Bone berbenah diri dengan melaksanakan hukum Islam ke dalam lembaga tradisi Bone. Selain itu juga mencanangkan pembaharuan keagamaan, serta memerintahkan kawulanya untuk mematuhi ajaran hukum Islam secara total dan menyeluruh.

Setelah itu, pada saat Islam masuk ke dalam struktur pemerintahan sebagai satu bagian yang menangani syariat Islam (Parewa Sara). Tugas raja dalam pengembangan agama Islam beralih kepada para pejabat sara atau Parewa Sara.

Dengan diterimanya Islam dan dijadikannya syariat Islam sebagai bagian dari pangngadereng, maka pranata-pranata sosial masyarakat Bone mendapatkan warna baru. Ketaatan mereka terhadap pangngadereng sama dengan ketaatannya terhadap syariat Islam.

Hal ini dikarenakan oleh penerimaan mereka terhadap Islam tidak banyak merubah nilai-nilai, kaidah kemasyarakatan dan kebudayaan yang telah ada. Apa yang dibawa oleh Islam hanyalah urusan ubudiyah (ibadah) tanpa mengubah lembaga-lembaga dalam kehidupan masyarakat yang ada (pangngadereng).
Islam mengisi sesuatu dari aspek kultural dan sendi-sendi kehidupan mereka. Nilai-nilai kesusilaan yang bertujuan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia diselaraskan dengan konsep siri yang begitu dijunjung tinggi oleh orang Bugis. Dengan jalan itu proses sosialisasi dan enkulturasi Islam masuk dalam kebudayaan orang Bone.

Daerah Sulawesi yang berpenduduk sekitar enam juta orang terdiri dari empat suku bagi penduduk asli ditambah dengan sejumlah pendatang dari luar. Keempat suku yang menjadi penduduk asli Sulawesi Selatan adalah Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

Memahami pola tingkah laku serta budaya Bugis-Makassar hanya mungkin memahami dengan baik konsep tentang Pangngaderreng dan siri’. Pangngaderreng merupakan suatu ikatan utuh sistem nilai yang memberikan kerangka acuan bagi hidup bermasyarakat orang-orang Bugis Makassar. Sedangkan Siri’ merupakan sikap hidup yang sangat mementingkan diri.

Pangngadereng dibangun ole unsur-unsur:

Ade’, yaitu sistem norma atau seperangkat adat yang menentukan dan mengatur batas-batas, bentuk-bentuk dan kaidah-kaidah. Misalnya, Ade’ yang khusus mengatur norma-norma perkawinan dan hal-hal yang berhubungan dengan etika rumah tangga disebut ade’ akkalabinengeng. Di dalamnya diatur garis keturunan mana yang dibolehkan untuk menjalin tali perkawinan dengan garis keturunan yang lain, kemudian kaidah-kaidah yang mengatur sah atau tidak sahnya perkawinan dan etika pergaulan dalam berumah tangga.

Bicara, mengatur segala hal-ikhwal yang berhubungan dengan peradilan, mengatur hak dan kewajiban warga negara dalam pelaksanaan hukum seperti penggugatan dan pembelaan di pengadilan. Namun bila dilihat materinya, mengarah pada wilayah penerapan hukum adat.

Rapang, berarti contoh, kiasan atau perumpamaan atau semacam yurisprudensi. Hal ini diberlakukan untuk situasi di mana kaidah atau undang-undang belum ditemukan untuk suatu kasus atau kejadian.

Wari, berfungsi menata, mengklasifikasi, mengatur urutan dari berbagai hubungan norma atau kaidah terutama dalam hubungannya dengan hal-ikhwal ketatanegaraan serta hukum, seperti tata cara menghadap raja. Di dalamnya juga diatur tentang pelapisan masyarakat atau stratifikasi sosial.

Sara’ merupakan unsur yang terbaru yang diserap dalam Pangngadereng. Ia mengandung pranata dan hukum dimana kata sara’ itu jelas diambil dari kata syariah. Bahwa sejak raja-raja Bugis dan Makassar pada abad ke-17 mulai masuk Islam, hukum Islam diintegrasikan ke dalam pangngadereng. Keberadaan sara’ memberi warna Islam kepada pangngadereng. Dalam hirarki kerajaan diangkatlah pegawai yang khusus mengurusi rentang sara’ ini yang disebut parewa sara’. Dialah yang bertanggung jawab dalam soal ibadah, zakat, pengurusan masjid, serta pernikahan dan warisan.

Jika budaya Bugis-Makassar ditelusuri ke zamannya yang paling tua, maka zaman itu disebut Galigo. Kebudayaan bugis Makassar yang sebelumnya hanya terdiri dari empat (ade’, bicara, rapang dan wari) merupakan materi perjanjian yang dilakukan antara Tomanurung di satu pihak dan rakyat di lain pihak pada zaman pra Islam.

Setelah selesai zaman pra Islam, mulailah zaman pengaruh Islam yang amat kuat berinternalisasi ke dalam tubuh kebudayaan Bugis-Makassar. Ia memberikan coraknya pada papangaja dan paseng. Kenyataan ini pun menunjukkan betapa kuatnya kedudukan lontara sebagai khazanah kebudayaan Bugis-Makassar yang dihasilkan sebelum Islam, sebab sebagian besar masih tetap terpelihara dalam zaman setelah memeluk agama Islam. Lontara Latoa misalnya memuat sejumlah nasihat sekitar akhlak penyelengaraan masyarakat atau negara yang dikemukakan oleh Kajaoliddo, Toriyolo, Matinro’e ri Tanana, petta Maddanrenge, Arung Bila, Nabi Muhammad Luqman al-Hakim, Petta Matinroe ri Lariangbangngi. Di dalamnya terdapat juga sejumlah pedoman bagi raja (Arung), bagi anak raja (Ana’karung’e), guru (Anre’guru) baik yang laki-laki maupun perempuan.

Peranan dalam islamisasi di Bone Arungpone dibantu oleh seorang qadhi yang bernama Syekh Ismail, beliau adalah qadhi kedua di kerajaan Bone sekaligus merangkap jadi qadhi di Soppeng. Syeikh Ismail menjadi guru di tengah-tengah pemikiran penduduk yang memiliki banyak fungsi, selain fungsi tempat ibadah, termasuk menjadi sarana pendidikan.

Lambat laun ajaran Islam menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dalam proses islamisasi dikaitkan dengan kegiatan upacara-upacara keislaman dan upacara yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Jadi setiap ada upacara senantiasa ditempatkan sifat islami yang berdampingan dengan budaya masyarakat Bone dalam perkembangan selanjutnya nuansa keagamaan semakin bercorak dan diperkuat dengan masuknya aliran tasawuf dalam prosesi penyiaran Islam.

Dalam sejarah disebutkan bahwa para raja Bone, mulai dari raja pertama sampai raja terakhir yang masuk Islam memberikan kesan bahwa masing-masing berbeda dalam usaha islamisasi dan memahami Islam. Hal ini berkenaan dengan kehadiran dan perkembangan agama Islam di Bone. Hal ini diwujudkan dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan, kendatipun demikian, sejak agama Islam dikenal luas oleh masyarakat Bone, hampir semua kebijakan mempunyai muatan-muatan Islam, termasuk dalam aspek pendidikan ajaran agama Islam, pemerintah Bone banyak memberikan dukungan sampai pada masa pemerintahan raja terakhir Haji Andi Mappanyukki.

Pada masa raja yang terakhir ini, kehidupan sosial keagamaan meningkat, komitmen terhadap ajaran Islam diwujudkan dengan kepedulian menerapkan nilai-nilai keagamaan bagi masyarakat Bugis Bone. Selain itu juga dibarengi dengan sikap keteladanan yang ditunjukkan, beliau dikenal sangat taat dalam menjalankan syariat Islam.

Sumbangsih beliau terhadap pelaksanaan syariat Islam ditandai dengan didirikannya tempat-tempat ibadah, demikian juga prosesi Islamisasi di Bone, oleh masyarakat, masyarakat sudah mulai mensinkronisasi ajaran Islam dengan pangadereng.

Perpaduan yang harmonis antara ulama dan umara membawa angin segar bagi penegakan perkembangan syariat Islam di Bone, pemerintah memberikan kemenangan pada ulama, dalam bidang keagamaan, sehingga keduanya mampu berjalan beriringan dengan semboyan: Riappaketenningi Ade’e pattupui ri sara’e artinya adat tempat berpegang dan sara’ tempat saudaranya.

Sejak masa itu peran ulama tidak hanya tergabung dalam organisasi qadhi, tetapi banyak di antara mereka melakukan aktivitas keagamaan di luar dari kordinasi organisasi formal. Para ulama lebih banyak memberikan pengajaran agama di masyarakat, termasuk yang dilakukan di tempat-tempat ibadah.
Perkembangan Islam yang cepat di Sulawesi Selatan dipermudah dengan kenyataan bahwa aliran Islam sufi yang bersifat mistiklah yang dibawa oleh ulama Minangkabau itu. Kesesuaian aliran sufi yang bersifat mistik dengan kepercayaan-kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia sudah sering dikemukakan; dan Sulawesi tidak merupakan perkecualian. Kepercayaan-kepercayaan yang lebih lama dan bersifat animistik pada kekuatan pembawaan makhluk, yang hidup dan mati, dan kekuatan benda-benda (terutama batu, sebagaimana di banyak tempat di Asia Tenggara) terus dipertahankan oleh banyak orang, dan upacara-upacara yang mencerminkan kepercayaan ini dan pengaruh agama Hindi-Budha kemudian, masih terus dilaksanakan sampai jauh dalam abad kedua puluh. Yang terutama mempunyai arti penting adalah diteruskannya pemujaan tanda-tanda kebesaran kerajaan, yang menjadi pusat kohesi spiritual masyarakat.

Tidak ada pemutusan yang tajam dengan kepercayaan dan kebiasaan lama karena orang memilih dari agama baru itu yang sama-sama yang tampak sesuai atau meyakinkan bagi mereka. Islam memberikan alternatif terhadap cara-cara biasa untuk melakukan sesuatu; kadang-kadang ajaran Islam menggantikan apa yang telah dilakukan sebelumnya, kadang-kadang peraturan baru dikesampingkan; dan kadang-kadang suatu sintesa barupun terciptalah. Dengan jalan ini kebiasaan dan kepercayaan Islam bercampur dengan apa yang sudah ada, dan bagian-bagian dari hukum Islam menjadi satu dengan praktek yang sudah lazim berlaku dalam masyarakat.

Di Sulawesi Selatan, Islam telah berjasa dalam membatasi kekuasaan tidak terbatas para raja, yang membuatnya lebih mudah bagi rakyat umum untuk mendekati mereka, dan yang menerapkan sedikit keluwesan dalam peraturan-peraturan kelas untuk perkawinan. Tetapi, adat adalah kewenangan terakhir, karena hadat-lah (yang pada hakikatnya adalah dewan adat) yang dapat memperkuat atau membatalkan keputusan pengadilan agama oleh Kadi. Kadi dan Imam lebih sering merupakan penasihat daripada anggota hadat, dan mungkin karena mereka pada umumnya adalah sanak keluarga penguasa seringkali mereka lebih memperhatikan keinginan-keinginannya daripada aturan-aturan hukum Islam.

Menjelang awal abad kedua puluh terdapat suatu sistem pengadilan Islam yang luas di Sulawesi Selatan, dengan yurisdiksi atas persengketaan yang mencakup perkawinan, perceraian, dan pewarisan. Tetapi, hukum yang mereka gunakan merupakan campuran dari hukum Islam dan hukum adat.