Senin, 13 Oktober 2014

makalah korespondensi



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).  Sebagai bagian terkecil dari teks, kalimat berstatus sebagai dasar wacana yang bersangkutan. Artinya, wacana barulah mungkin terbentuk jika ada kalimat yang letaknya berurutan dan berdasarkan kaidah kewacanaan tertentu.
Berkenaan dengan hal itu, pengenalan secara lebih seksama dan terpercaya terhadap kalimat sudah selayaknya bertolak dari bagian awal setiap wacana atau setidak-tidaknya dari bagian awal setiap paragraf atau alinea. Kalimat majemuk merupakan jenis kalimat yang dilihat dari strukturnya, artinya kalimat ini susunannya terdiri dari minimal dua buah kalimat tunggal yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan menggunakan kata penghubung.

B.     Rumusan Masalah
1.   Apa pengertian kalimat majemuk?
2.   Apa saja jenis-jenis kalimat majemuk?
3.   Bagaimana pola pembentukan kalimat majemuk?

C.    Tujuan Penulisan
1.   Menjelaskan pengertian kalimat majemuk.
2.   Menjelaskan jenis-jenis kalimat majemuk.
3.   Menjelaskan pola pembentukan kalimat majemuk.

D. Kegunaan  Penulisan
1.   Mengetahui pengertian, jenis-jenis, dan pola kalimat majemuk.
2.   Dapat dijadikan sebagai bahan belajar.
3.   Menambah khazanah ilmu pengetahuan.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Cara membedakan anak kalimat dan induk kalimat yaitu dengan melihat letak konjungsi atau kata penghubung. Induk kalimat tidak memuat konjungsi di dalamnya, konjungsi hanya terdapat pada anak kalimat. Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya.
           
B.  Jenis-jenis Kalimat Majemuk
1.      Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah gabungan beberapa kalimat tunggal menjadi sebuah kalimat yang lebih besar, dan tiap-tiap kalimat tunggal yang digabungkan itu tidak kehilagan unsur-unsurnya.
Kalimat majemuk setara diberi nama sesuai dengan jenis hubungan yang ada di antara kalimat-kalimat yang digabungkan. Pada garis besarnya, kalimat majemuk setara dibagi menjadi tiga, yaitu:

a)Kalimat  Majemuk  Setara Sejalan
Sebuah  kalimat  majemuk  setara sejalan, kalau arti kalimat itu digabungkan itu tidak berlawanan atau pengertiannya sejalan.
b)      Kalimat Majemuk Setara Berlawanan
Sebuah kalimat majemuk setara berlawanan kalau terdapat pertentangan arti di antara kalimat-kalimat yang digabungkan.
c)      Kalimat Majemuk Setara Penunjukan
Kalimat majemuk setara penunjukan ialah bagian kalimat yang satu menunjuk kembali bagian kalimat yang lain.

2.      Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang unsur kalimatnya sama dielipskan. Jadi, menentukan kalimat majemuk rapatan dilihat dari segi ada dan tidaknya unsur yang dielipskan atau yang dirapatkan. Kalau ada beberapa kalimat tunggal mempunyai kesamaan unsur, maka kalimat tunggal itu dapat digabungkan menjadi kalimat majemuk dengan menuliskan/menyebutkan satu kali unsur-unsur yang sama itu. Kalimat majemuk yang terjadi karena prroses penggabungan yang demikian itu disebut kalimat majemuk rapatan. Kalimat majemuk rapatan terdiri dari kalimat majemuk sama subjek, kalimat majemuk sama predikat, kalimat majemuk sama objek, dan kalimat majemuk sama keterangan.

3.      Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan pola-polanya tidak sederajat, salah satu pada bagian yang lebih tinggi kedudukannya disebut induk kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat. 

4.      Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang pola-pola kalimatnya berkedudukan setara atau bertingkat. Sebuah kalimat disebut kalimat majemuk campuran bila kalimat itu terdiri minimal tiga pola kalimat dan kedudukan pola-pola kalimatnya tidak sama, yaitu ada yang setara dan ada yang bertingkat.
Kalimat majemuk campuran bisa berupa dua pola kalimat berkedudukan setara dan satu pola kalimat berkedudukan bertingkat. Bisa pula berupa dua pola kalimat berkedudukan bertingkat dan satu pola kalimat berkedudukan setara.
Dengan demikian, kalimat majemuk campuran minimal terdapat dua pola atasaan (induk kalimat) dan satu pola bawahan (anak kalimat), atau minimal terdapat dua pola bawahan dan satu pola atasan.
C.     Pola Pembentukan Kalimat Majemuk
                  1.      Kalimat majemuk setara
a.       Kalimat majemuk setara menggabungkan dibentuk dengan cara menggabungkan atau merangkaikan dua kalimat tunggal atau lebih dengan menggunakan kesenyapan antara tanda koma (,) dan kata tugas (misalnya : dan, sesudah itu, karena itu).
K1 = Awan menghitam di langit.
K2  = Angin sama sekali tak terasa.
K3  = Bururng-burung pulang ke sarangnya.
Kalimat = Awan menghitam di langit, angin sama sekali tak terasa, dan burung-burung pulang ke sarangnya.
b.      Kalimat majemuk setara memilih dibentuk dengan cara menggabungkan atau merangkai dua kalimat tunggal atau lebih dengan menggunakan kata tugas yang menyatakan pemilihan (misalnya kata atau). Contoh:
K1 = Kau menerima lamarannya.
K2 = Kau akan menjadi perawan tua.
Kalimat = Kau menerima lamarannya atau kau akan menjadi perawan tua.
c.       Kalimat majemuk setara penunjukan dibentuk dengan menggabungkan dua kalimat tunggal yang memiliki hubungan sebab akibat. Contoh:
K1 = Dia sedang sakit.
K2 = Dia tidak ikut bertanding.
Kalimat = Dia sedang sakit, karena itu dia tidak ikut bertanding.

                  2.      Kalimat Majemuk Rapatan
a.       Kalimat majemuk rapatan sama subjek dibentuk dengan cara mengelipskan atau menghilangkan atau merapatkan unsur subjeknya (yang sama). Contoh:
K1 = Benteng itu ditembaki.
K2 = Benteng itu dibom bertubi-tubi.
K3 = Benteng itu diratakan dengan tanah.
Kalimat = Benteng itu ditembaki, dibomi bertubi-tubi, dan diratakan dengan tanah.
b.      Kalimat majemuk rapatan unsur predikat dibentuk dengan cara mengelipskan atau menghilangkan atau merapatkan unsur predikatnya (yang sama). Contoh:
K1 = Sawahnya digadaikan.
K2 = Pekarangannya digadaikan.
K3 = Rumahnya digadaikan.
Kalimat = Sawahnya, pekarangannya, dan rumahnya digadaikan.
c.       Kalimat majemuk rapatan unsur objek dibentuk dengan cara mengelipskan atau menghilangkan atau merapatkan unsur objeknya (yang sama). Contoh:
K1 = Ayah menulis surat itu.
K2 = Ibu mengirimkan surat itu.
Kalimat = Ayah menulis dan ibu mengirimkan surat itu.
d.      Kalimat majemuk rapatan unsur keterangan dibentuk dengan cara mengelipskan atau menghilangkan atau merapatkan unsur keterangannya (yang sama). Contoh:
K1 = Adik menimba air di sumur.
K2 = Kakak mencuci pakaian di sumur.
Kalimat = Adik menimba air dan kakak mencuci pakaian di sumur.
Atau = Di sumur adik menimba air dan kakak mencuci pakaian.

                  3.   Kalimat Majemuk Bertingkat
a.       Kalimat majemuk bertingkat pengembangan subjek dibentuk  dengan cara memperluas atau mengembangkan unsur yang yang menduduki jabatan subjek dalam kalimat tunggal. Wujud pola kalimat (baru) yang merupakan hasil perluasan unsur subjek disebut anak kalimat atau pola baawahan (perluasan subjek).
b.      Kalimat majemuk bertingkat pengembangan predikat dibentuk dengan cara memperluas atau mengembangkan unsur yang menduduki fungsi predikat dalam kalimat tunggal. Wujud pola yang merupakan hasil perluasan unsur predikat disebut anak kalimat atau pola bawahan (perluasan predikat).
c.       Kalimat majemuk bertingkat pengembangn objek dibentuk dengan memperluas atau mengembangkan unsur yang menduduki jabatan objek dalam kalimat tunggal. Wujud pola kalimat yang merupakan hasil perluasan unsur objek disebut anak kalimat atau pola bawahan (perluasan objek).
d.      Kalimat majemuk bertingkat pengembangan keterangan dibentuk dengan cara memperluas atau mengembangkan unsur yang menduduki fungsi keterangan dalam kalimat tunggal. Wujud pola kalimat yang merupakan hasil perluasan unsur keterangan disebut anak kalimat atau pola bawahan (perluasan keterangan).
Contoh:        Kedatangannya disambut oleh rakyat kemarin.
Unsur kemarin diganti dengan kalimat: Ketika matahatri mulai condong ke barat.
- Kedatangnnya disambut oleh rakyat ketika matahari mulai condong ke barat.

                  4.   Kalimat Majemuk Campuran
a.    Menggabungkan dua kalimat majemuk setara dan satu kalimat majemuk bertingkat.
b.   Menggabungkan dua kalimat majemuk bertingkat satu kalimat majemuk setara.
Contoh:
1.   Saiful  bermain dengan Ivan. (kalimat tunggal 1)
2.   Rina membaca buku di kamar kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)
3.   Ketika aku datang ke rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
Kalimat: Saiful bermain dengan Ivan, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang ke rumahnya. (kalimat majemuk campuran)











BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
1.   Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk terdiri dari induk kalimat (pola atasan) dan anak kalimat (pola bawahan).
2.   Kalimat majemuk terdiri atas: (1) kalimat majemuk setara, (2) kalimat majemuk rapatan, (3) kalimat majemuk bertingkat, dan (4) kalimat majemuk campuran.
3.   Pola pembentukan kalimat majemuk yaitu dengan cara menggabungkan dua kalimat atau lebih dengan menggunakan kata penghubung yang sesuai agar terbentuk kalimat majemuk yang tepat.

B.   Saran
Kalimat majemuk selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan. Untuk itu perlu adanya pengetahuan dan pemahaman tentang kalimat majemuk, khususnya pola kalimat majemuk  agar bisa menggunakannya dengan baik (secara lisan) dan tidak terjadi kesalahan dalam membuat sebuah kalimat majemuk (dalam bentuk tulisan).

makalah akhlak dianjurkan dalam masalah



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Dalam persoalan Akhlak, manusia sebagai makhluk berakhlak berkewajiban menunaikan dan menjaga akhlak yang baik serta menjauhi dan meninggalkan akhlak yang buruk. Dengan demikian, dikarenakan akhlak merupakan dimensi nilai dari Syariat Islam, maka Islam sebagai agama yang bisa dilihat dari berbagai dimensi, sebagai keyakinan, sebagai ajaran dan sebagai aturan. Sebagai aturan, agama berisi perintah dan larangan, ada perintah keras (wajib) dan larangn keras (haram), ada juga perintah anjuran (sunat) dan larangan anjuran (makruh).
Apalagi pada zaman sekarang ini, banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Disatu sisi, kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan.
Seharusnya, kita mengerti tauhid sebagai sisi pokok/inti, Islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat, Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap ALLAH, dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya, berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang, maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seseorang memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.         Apa pengertian akhlaq?
2.         Bagaimana akhlak yang dianjurkan dalam bermasyarakat?
3.         Akhlaq terpuji bagaimana yang akan  menjadi pondasi dalam bermasyarakat.
C.      Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diuraikan tujuan penulisan makalah sebagai berikut :
1.    Mengetahui pengertian akhlaq.
2.    Memahami akhlaq yang dianjurkan dalam bermasyarakat.
3.    Mengetahui serta memahami akhlaq terpuji yang akan menjadi pondasi dalam bermasyarakat agar tetap harmonis.
D.      Manfaat Penulisan
Makalah ini bermanfaat untuk lebih mengetahui akhlaq apa yang harus kita aplikasikan dalam bermasyarakat agar keharmonisannya tetap terjaga.
Seperti kita ketahui bahwa Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa terlepas dari orang lain yang akan selalu berinteraksi dengan yang lainnya. Maka dari itu akhlaq terhadap masyarakat harus tetap terjaga.


                                                            BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Akhlaq
Secara etimologis akhlaq berasal dari Bahasa Arab adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Berakar dari khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta), makhluk (yang diciptakann) dan khalq (penciptaan).
Secara terminologis (isbtbilaban) ada beberapa definisi tentang akhlaantaranya:
1.        Imam al-Ghazali
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tampa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2.        Ibrahim Anis
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang denganya lahir macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tampa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
3.        Abdul Karim Zaidan
Akhlaq adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatanya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.
Ketiga definisi yang dikutip di atas sepakat menyatakan bahwa akhlaq  atau khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan

muncul secara sepontan bilamana yang diperlukan, tampa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.
Dari keterangan diatas dijelaskan bagi kita bahwa akhlaq itu haruslah bersifat konstan, spontan, tidak temporer dan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.[1]
Kita harus ingat bahwa Nabi Muhammad adalah teladan yang paling baik.[2] Nabi Muhammad memili akhlak yang paling sempurna yang wajib diteladani sebagaimana salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad adalah untuk menyempurnakan akhlaq.
Demikianlah juga hadis Nabi Swa.

“Aku diutus untuk menyempurnakan perangai (budi pekerti) yang mulia.” (HR. Ahmad).[3]







B.       Akhlak yang dianjurkan dalam Bermasyarakat
1.        Berbuat baik kepada tetangga
Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita. Dekat bukan karena pertalian darah atau pertalian persaudaraan. Bahkan, tidak seagama denagn kita. Dekat disini adalah orang yang tinggal berdekatan rumah dengan kita. Ada atsar yang menunjukkan bahwa tetangga adalah empat puluh rumah (yang berada disekitar rumah)  dari setiap penjuru mata angin.
Agama islam telah membuat ketetapan untuk memuliakan tetangga, tidak mengganggu dan menyusahkan mereka. Nabi Muhammad Saw. Bersabda:

Artinya:
Barang siapa beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian, hendaklah dia memuliakn tetangganya”.[4]
Oleh karena itu, haram seseorang menyakiti tetangganya dengan bentuk apapun baik perkataan maupun perbuatan. Apabila dia melakukan hal itu, dia tidak termasuk orang yang beriamn,. Artinya, dia tidak melakukan sikap seorang mukmin dalam masalah ini karena dia menyelisihi sikap yang benar.[5]
Seorang lelaki datang menemui Rasulullah lalu berkat, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya aku akan masuk syurga.” Beleaupun berkata, “jadilah engkau orang yang muhsin (selalu berbuat baik).” Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana saya mengetahui bahwa saya a alah orang muhsin (yang berbuat baik)?” beliau menjawab, “Tanyalah tetanggamu, jika mereka mengatakan kamu adalah orang yang baik, kamu adalh orang yang baik. Sebaliknya, jika mereka mengatakan kamu adalah orang yang jelek, engkau adalah orang yang jelek.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah).
Demikianlah islam menekankan kepada seluruh umatnya untuk selalu berbuat baik terhadap tetangganya, baik tetangganya Islam atau kafir sekalipun.
2.        Suka menolong orang lain
Dalam hidup ini, setiap orang pasti memerlukan pertolongan orang lain. Adakalah karena sengsara dalm hidup, penderitaan batin atau kegelisahan jiwa, dan adakalnya karena sedih setelah mendapat berbagai musibah.
       Orang mukmin akan tergerak hatinya apabila melihat orang lain tertimpa kesusahan mereka akan menolong sesuai dengan kemampuannya. Apabila tidak ada bantuan berupa benda, kita dapat membantu orang tersebut dengan nasehat atau kata-kata yang dapat menghibur hatinya. Bahkan, seaktu-waktu bantuan jasapun lebih daiharapkan daripada bantuan lainnya.[6]







C.      Akhlaq Terpuji yang Menjadi Pondasi dalam Bermasyarakat
Akhlak terpuji (Akhlakul mahmudah) merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Tanda tersebut diaplikasikan kedalam perbuatan sehari-hari dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-qur’an dan hadis.[7]
Untuk mempunyai akhlaq yang baik ada beberapa kiat-kiat yang menyebabkannya yaitu, bahwa akhlaq itu pada dasarnya rahmat dari Allah, sifat bawaan dan upaya-upaya untuk memperolek sifat-sifat yang baik tersebut.[8]
Untuk menjaga hubungan didalam masyarakat, perlu adanya pondasi untuk menguatkannya yaitu akhlak terpuji, agar hubungan didalam masyarakat tetap terjaga dan harmonis. Maka dari itu beikut ini akan disampaikan beberapa akhlak tersebut.
1.        Taqwa
Definisi taqwa yang paling populer adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
2.        Amanah dan dapat dipercaya
Sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik harta, ilmu, rahasia atau lainnya yang wajib dipelihara atau disampaikan kepada yang berhak menerimanya.[9]
Kewajiban memiliki sifat amanah ini ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikna amanat kepada yang berhak menerimanya.” (Q.S. An Nisa: 58).[10]
3.        Sabar
Menurut Al Gazali, yang dinamakan “sabar” ialah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan oleh hawa nafsu, tetap pada pendirian agama yang mungkin bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semata-mata kerena menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat.
Bahwa sabar itu merupakan jihad/ perjuangna didalam menghadapi hawa nafsu untuk kembali kepada Tuhan.[11]
Sabar terbagi menjadi tiga macam yaitu
a.         Sabar karena taat kepada Allah, artinya sabar untuk tetap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya dengan senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepadanya.
b.         Sabar karena maksiat, artinya bersabar diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama. Untuk itu, sangat dibutuhkan kesabaran dalam menahan hawa nafsu.
c.         Sabar karena musibah, artinya sabar pada saat ditimpa kemalangan, ujian, serat cobaan dari Allah.[12]
4.        Syukur
Adapun arti syukur adalah keadaan seseorang mempergunakan nikmat yang diberikan oleh Allah itu kepada kebajikan.[13] Bentuk syukur ini ditandai dengan menggunakan segala nikmat atau rezeki karunia Allah tersebut untuk melakukan ketaatan kepadanya dan memanfaatkannya kearah kebajikan bukan kearah kemaksiatan atau kejahatan.
Dengan mempergunakan nikmat yang diberikan oleh Allah kehal yang baik seperti membantu orang yang miskin, fakir atau orang yang dibawah kita.
Jadilah orang yang berakal dan berlakulah dengan sopan dihadapan Allah dan makhluk lainya. Jangan berbuat salim terhadap mereka dengan meminta sesuatu yang tidak mereka punyai.[14]

5.        Benar/jujur (Ash-Shidqu)
Ash-shidku merupak salah satu akhlak yang mulia ynag selalu berlaku benar dalam perkataan dan perbuatan.
Benar dalam perkataan ialah mengatakan keadaan yang sebenarnya, benar dalam perbuatan ialah mengerjakan sesuatu sesuai dengan petunjuk agama.[15]
6.        Menepati janji
Dalam Islam janji adalah utang, dan utang harus dibayar (ditepati). Seprti firman Allah:
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولا
Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawaban.” (QS. Al-Isra: 34)[16]

7.        Memelihara kesucian diri
       Yang dimaksu dengan memelihara kesucian diri adalah menjaga diri daris egala tuduhan, fitnah dan memlihara kehormatan. Upaya memlihara kesucian diri ini hendaknya dilakukan setiap hari agar diri tetap berada dalam status kesucian. Hal ini dapat dilakukan mulai dari memelihara hati (qalbu).[17]
8.        Pemaaf
Manusia tiada sunyai dari khilaf dan salah. Maka apabila orang berbuat sesuatu terhadap dirimu yang mungkin karena khilaf atau salah, maka patutlah engkau pakai sifat lemah lembut sebagai rahmat Allah Swt. Kepadamu terhadapnya, maafkanlah kesalahan atau kekhilafan janganlah mendendam serta mohongkanlah ampun kepada Allah Swt untuknya, semoga ia surut dari langkahnya yang salah, lalu berbuat baik dimasa depan sampai akhir hayatnya.[18]







                                                            BAB III
PENUTUP
A.      Simpulan
1.        Secara etimologis akhlaq berasal dari Bahasa Arab adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Secara istila akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara sepontan bilamana yang diperlukan, tampa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.
2.        Akhlak yang dianjurkan dalam Bermasyarakat
a.       Berbuat baik kepada tetangga.
b.      Suka menolong orang lain.
3.        Akhlaq Terpuji yang Menjadi Pondasi dalam Bermasyarakat
a.         Amanah dan dapat dipercaya.
b.         Sabar.
c.         Banar/jujur.
d.        Syukur.
e.         Menepati janji.
f.          Menjaga kesucian diri.
g.         Pemaaf.
B.       Saran
Islam adalah agama penyempurnah dari agama-agama sebelumnya, baik dari keyakinan, ajaran dan aturannya. Maka dari itu sebagai ummat Islam kita patut bersyukur karena apa yang dibutuhakn semuanya ada didalam Al-qur’an termasuk akhlak yang baik yang jika kita ikuti akan selamat dunia dan akhirat insyaAllah.

DAFTAR PUSTAKA
Al-ghazali. Metode  Menaklukkan Jiwa: Perspektif Sufistik. Cet. II; Bandung:   Karisma, 2002.
Anwar, Rosihan. Akidah Akhlaq. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Ilyas, Yuhanar. Kuliah Akhlaq. Cet. XII; Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam, 2012.
Jailani, Syekh Abdul Qadir. Titian Menuju Kemenangan dan Rahmat Ilahi. Cet. I; Jakarta: Pustaka Azzam, 2000.
Schimmel, Annamaria. Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan Nabi Muhammad dalam Islam. Cet. VIII; Bandung: Mizan, 2001.
Umary, Barmawie. Materi Akhlaq, Cet. XI; Solo: Bandung, 1993.
Zahri, Mustafa. Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. Surabaya: Bina Ilmu, 2007.




[1] Prof. Dr. H. Yuhanar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, (Cet. XII; Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam, 2012), h. 1-3
[2] Annamaria Schimmel, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan Nabi Muhammad dalam Islam,  (Cet. VIII; Bandung: Mizan, 2001), h. 41
[3] DR. Rosihon Anwar, M.g. Akidah Akhlak, (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 206
[4] Ibid, h. 239-240
[5] Ibid, h. 241
[6] Ibid, h. 21
[7] Ibid, h. 215
[8] Al-ghazali, Metode Menaklukkan Jiwa: perspektif Sufistik, (Cet. II; Bandung: Karisma, 2002), h. 99
[9] Drs. Barmawie Umary, Materi Akhlak, (Cet. XI; Solo: Ramadani, 1993), h. 44
[10] Op. Cit, h. 226
[11] Dr. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: Bina Ilmu, 2007), h.55
[12] Op. cit, h. 222-223
[13] Op. cit, h. 59
[14] Syekh Abdul Qadir Jailani, Titian Menuju Kemenangan dan Rahmat Ilahi, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Azzam, 2000),  163
[15] Op. cit, h. 227
[16] Ibid, h. 229
[17] Ibid, h. 230
[18] Op. cit. h. 44